sajak duka
Lara
Saat seseorang merasa lelah untuk meminta; meminta untuk diperhatikan, disayangi, dipedulikan, diakui, dan diberi waktu, dia akan memilih untuk berhenti berharap pada kehidupan. Dia akan diam, menahan semua kesakitan-nya sendirian. Karena kepercayaannya sudah disia-siakan dan di lupakan. Dia sendiri, lupa dengan keseharian yang seharusnya ia lakukan. Bergeming dalam kesepian, ditemani beribu kecemasan dalam pikirannya sendiri.
Siapa yang patut disalahkan, dirinya
atau orang yang membuatnya merasa
kesepian?.
“Bodoh, pertanyaan macam apa itu!”
Sekarang, dia membutuhkan orang lain untuk menyembuhkannya. Perkara siapa yang salah atau tidak, itu tidak penting. Untuk saat ini, naluri kemanusiaan yang dibutuhkan agar kehidupan orang lain tidak menjadi korban.
Tapi dia memilih sendiri, berteman sepi, karena kebaikannya tidak dihargai. Kepercayaan-nya hilang, dan mengembalikan kepercayaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mencari orang yang mau membantu dengan tulus-pun tidak semudah melantunkan sajak cinta.
Kali ini, dia benar-benar pasrah. Dia memilih berhenti, dengan sejuta sakit yang membuat dukanya semakin menjiwa.
Dia menunggu, karena semua hanya perihal waktu.
Comments
Post a Comment